Rememberence of Allah

Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram. (al-Ra`d:28)

Hakikat Doa

“Maka Allah akan memberi balasan terhadap orang yang menyembunyikan kebenaran, kerana sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang baik buruk seseorang dan Allah Maha Mendengar doa hambaNya yang jujur dan ikhlas.”

KhazanahNya

Indeed, in the creation of the heavens and the earth and the alternation of the night and the day are signs for those of understanding.(Ali-imran 190)

KEINDAHAN ISLAM MEMBAWA PERTUNJUK

O you who have believed, enter into Islam completely [and perfectly] and do not follow the footsteps of Satan. Indeed, he is to you a clear enemy. (Al-Baqarah 208)

Hakikat Hidup

Beautified for people is the love of that which they desire - of women and sons, heaped-up sums of gold and silver, fine branded horses, and cattle and tilled land. That is the enjoyment of worldly life, but Allah has with Him the best return. (Ali-Imran 14)

Showing posts with label Al-Hawariyyun. Show all posts
Showing posts with label Al-Hawariyyun. Show all posts

Tuesday, October 11, 2011

Pemilik Al- Yaqiin: Imam Abu Hanifah


Pada suatu pagi, Imam Abu Hanifah yang ketika itu masih kanak-kanak telah mendapati gurunya itu berada dalam keadaan dukacita. Beliau pun bertanyakan sebabnya.

Guru: Aku bermimpi melihat sebuah kebun yang sangat luas yang terhias. 

Terdapat sepohon pokok kayu yang berbuah. 
Kemudian, muncul seekor babi dari suatu penjuru kampung dan menyondol serta memakan buah-buah pohon tersebut sehingga habis dedaun dan buah-buah tersebut.
Hanya tinggal batang kayu sahaja. 

Kemudian, muncul pula seekor harimau daripada umbi pohon tersebut lalu terus menerkam babi itu dan membunuhnya.


Imam Abu Hanifah: Allah Taala telah mengajarkan saya ilmu ta’bir mimpi. 
Saya mendapati mimpi ini baik bagi kita dan buruk bagi musuh kita. 
Jika Tuan Guru izinkan, bolehlah saya ta’birkannya.

Guru: Ta’birkanlah .

Imam Abu Hanifah: Dusun luas yang terhias itu adalah agama Islam. 
Pohon kayu yang berbuah itu ialah para ulama. 
Batang kayu yang tertinggal itu ialah Tuan Guru sendiri. 
Babi yang muncul itu ialah si Atheis itu, 
manakala harimau itu yang membunuh babi tersebut ialah saya sendiri.

Tuan Guru: Bagaimana pula kalau orang tanya siapa kamu?
Imam Abu Hanifah: Katakan saja saya ini budak pembawa kasut tuan.


Berangkatlah, saya akan turut menemani Tuan Guru. 
Dengan berkat hemat Tuan Guru dan berkat hadrat Tuan Guru, saya akan patahkan hujahnya.

Tuan Guru bergembira dengan kata-kata Imam Abu Hanifah itu, lalu bertolak bersama ke Masjid Jami’. Kemudian, Khalifah tiba di samping orang ramai telah berhimpun di sana.

Si Atheis itu datang dan terus naik ke mimbar serta bertanya: Siapakah di kalangan kamu yang akan menjawab soalan-soalanku?

Imam Abu Hanifah menjawab: Nyatakan saja soalan kamu, orang yang tahu akan menjawabnya.

Antara 3 soalan yang didebatkan ialah:

1) Apa yang ada sebelum Allah ada?
2) Ke manakah Allah sedang menghadap sekarang?
3) Apakah yang dilakukan Allah sekarang?

Apa yang ada sebelum Allah?


Imam Abu Hanifah: Tiada sesuatu sebelum Allah. Buktinya ada pada anggota badanmu. Tiada sesuatu pun yang mendahului ibu jari tanganmu. Begitu jugalah dengan Allah Taala. Tiada sesuatu sebelum-Nya dan tiada sesuatu selepas-Nya.

Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya?

Jika tuan menyalakan lampu pelita di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap? 


Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru. 

Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.

Apakah yang dilakukan oleh Allah sekarang?

Imam Abu Hanifah: Cara engkau tidak betul. 
Sepatutnya orang yang menjawab mesti berada di mimbar dan orang yang bertanya berada di bawah. 
Aku akan menjawab jika aku berada di mimbar dan engkau pula di bawah. 
Si Atheis itu pun turun, Imam Abu Hanifah pula naik ke atas mimbar. 
Setelah beliau duduk, si Atheis itu pun bertanyakan soalan tadi. 


Imam Abu Hanifah menjawab: Inilah yang Allah Taala lakukan sekarang. 
Dia menggugurkan yang batil seperti kamu dari atas ke bawah dan menaikkan yang benar seperti aku dari bawah ke atas.

Betapa hebatnya jawapan daripada seorang ulama’ ya’ni pemilik Al-Yaqiin. 
Terlalu banyak antara kita disibukkan untuk mengejar ilmu sehinggakan ada yang sanggup diterbangkan beribu batu, menghabiskan ribuan ringgit untuk mendalami sesuatu bidang. 
Namun ramai juga yang sering alpa apakah yang dimaksudkan ilmu itu tersebut.


Tersentak seketika, apabila seorang guru pernah berkata:

“Ketahuilah apa yang kamu berlajar ini, apa yang engkau kejari meskipun engkau belajar di tempat yang terbaik didunia,paling megah,  itu adalah hanya KEMAHIRAN! KEMAHIRAN! Ia bukanlah ILMU yang dijanjikan Allah swt ikan dilaut, hidupan didarat akan mendoakanmu jikalau kamu mempelajarinya.”

Hampir terasa kerdil diri tatkala menjadi sebagai penuntut ilmu duniawi, namun tersiratnya sekemudian baru ku fahami .

Mafhumnya…
Selagi mana kita mempelajari sesuatu, mendalaminya, dan dengan itu ia mendekatkan kita dengan Allah SWT, menambah keyakinan dan tidak mengalpakan, itulah ILMU sebenarnya. Tidak kiralah ia Ilmu tentang apa namun tujuannya tetap sama, mencari kebenaran dan keredhaan.




Thursday, September 1, 2011

Baitul Muslim: Cinta Ali & Fathimah r.a






Ada rahsia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada sesiapa pun.
Fathimah...
Karib kecilnya, puteri tersayang  Nabi, yang adalah sepupunya itu, sungguh mempesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekapan kerjanya,  rupa parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan dengan berhati-hati, ia seka dengan penuh cinta.

Ia bakar perca, ia tempalkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis.

Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.

Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fatimah mengherdik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fatimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Nabi.

Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.


”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karana merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.

Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama, mungkin karana ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.

Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.


Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. 
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?

Dari sisi keewangan, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.”

Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, 
aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.


Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fatimah seorang lelaki lain yang gagah dan perkasa, 
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaitan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab.

Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebatilan itu juga datang melamar Fathimah.

 ’Umar memang masuk Islam terkebelakang, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,

”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, ayahanda Fatimah.
Lalu cuba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. 
’Ali menyusul terhadap Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang kecewa kerana tidak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.

”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. 
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki berani.
’Ali, sekali lagi sedar.

Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.

Apalagi menikahi Fatimah binti Rasulillah!

Tidak. ’Umar jauh lebih layak.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. 
Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang jutawan yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?

Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau  Nabi ingin mengambil menantu dari Ansar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?

Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan?
Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?”

Mengapa bukan engkau yang mencuba kawan?”, kalimat teman-teman Ansarnya itu membangunkan lamunan.

”Mengapa engkau tak mencuba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang dapat kuandalkan?”

“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

Ali pun menghadap Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.

Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.

Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan!

Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan.
Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya.
Pemuda yang siap memikul risiko atas pilihan- pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”

Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.

Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak. Itu risiko.

Kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.

Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ bererti sebuah jawapan!”.

“Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya bererti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.

Sekarang...
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah lelaki sejati.,

 “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” 

Inilah jalan cinta para pejuang. 
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.


Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,


“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata

“kalau begitu mengapa engkau mahu menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, kerana pemuda itu adalah Dirimu

Kemudian Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”
(kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Inilah jalan cinta yang diredhai Tuhan..

POSTED IN: Al-Hawariyyun

Monday, August 15, 2011

Uwais AlQarni: Siapalah dia di bumi ini...


Pada zaman Nabi Muhammad SAW,
ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah,
pundaknya lapang panjang, 
berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, 
dagunya menempel di dada kerana selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, 
ahli membaca Al Qur’an dan selalu menangis,
pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut -
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakannya sebagai selendang,
tiada orang yang menghiraukan,
 tidak terkenal dalam kalangan manusia, 
namun tersangat terkenal diantara penduduk langit.

Tatkala datangnya hari kiamat,
dan tatkala semua ahli ibadah diseru untuk memasuki surga,
dia justru dipanggil agar berhenti dahulu seketika dan disuruh memberi syafa’atnya.

Ternyata Allah memberi izin padanya untuk memberi syafa’at sejumlah bilangan qabilah Robi’ah
dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan ke surga dan tiada seorang pun ketinggalan
dengan izin-Nya.

Dia adalah “Uwais al-Qarni”.
Siapalah dia pada mata manusia..

Tidak banyak yang mengenalnya, apatah lagi mengambil tahu akan hidupnya..
Banyak suara-suara yang menertawakan dirinya,
mengolok-olok dan mempermainkan hatinya,
dan menuduhnya sebagai seorang yang membujuk,
seorang pencuri serta berbagai macam umpatan demi umpatan, 
celaan demi celaan daripada manusia.

Suatu ketika, seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi tidak diterima lalu dikembalikan semula olehnya
seraya berkata : 

“Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini (Uwais) telah lama menjadi yatim,
tak punya sanak saudara,
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh tubuh badannya.
Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa.

Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari,
Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.
Upah yang diterimanya hanya cukup-cukup untuk sekedar 
menumpang keperluan hariaanya bersama Sang ibu,
bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah.

Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum.



Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais.
Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah.
Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu,
dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi.

Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ?

Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
memerlukan perhatian daripadanya dan tak sanggup dihatinya meninggalkan ibunya sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah.

Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau amat faham akan hati nurani anaknya, Uwais, dan berkata :

“Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.

Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan dia tidak lupa untuk
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama mana ia pergi.

Sesudah siap segala persediaan sambil mencium sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

 

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah.
Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais.

Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya.
Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang.
Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah.
Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang.

Tapi, bilakah beliau pulang ?
Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,

” Engkau harus lekas pulang”.

Kerana ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW.

Ia akhirnya dengan terpaksa memohon untuk pulang semula kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. ke negerinya.

Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan pilu.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya.
Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).

Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya terpegun.

Menurut sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda :  

“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda :

“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hinggalah sampai waktu
khalifah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di digantikan dengan Khalifah Umar r.a.
Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit.
Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama.

Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua selalu
bertanya tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah.

Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.
Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam.
Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW.

Memang benar !
Dia penghuni langit.
Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ?


“Abdullah”, jawab Uwais.

Mendengar jawapan itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan :

“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”

Uwais kemudian berkata:

“Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.
Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:

“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”.

 Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:

“Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang
negara daripada Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.

Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata :  

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya.

Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan ditolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin taufan berhembus
dengan kencang.


Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.
Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya.

Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan solat di
atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.

“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh.
Lalu kami berseru lagi,

” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata:

“Apa yang terjadi ?”

“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”, tanya kami.

“Dekatkanlah diri kalian pada Allah !“, katanya.

“Kami telah melakukannya.”

“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim!”

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami ,

”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.

 “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “, Tanya kami.

“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya,

“Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”

“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.

”Ya,” jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a.
Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan.

Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah.

Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya.
Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafan, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafankannya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya.
Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai.
Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,

“ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang dari
menghantarkan jenazahnya, lalu aku ingin untuk kembali ke kubur tersebut untuk memberi tanda pada kuburya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas di kuburnya.
(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat menghairankan.
Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan
pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan
orang.


Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya :

Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwaisal-Qorni ?
Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa,
yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala?

Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.


Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya.
Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa
 “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.


Dialah Uwais..!!

Posted in: Al-Hawariyyun

Related Posts with Thumbnails

Total Pageviews

Akhir Kalam...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites